Dunia Pendidikan Membutuhkan Imajinasi dan Kreativitas

Dunia Pendidikan Membutuhkan Imajinasi dan Kreativitas

Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) Iwan Syahril, mengungkapkan dunia pendidikan membutuhkan orang-orang yang imajinatif, kreatif dan penuh inisiatif. Pendidikan tidak harus berada di ruang kelas. Pandemi Covid-19 membuktikan hal itu. Hal ini diungkapkan Iwan dalam National Leadership Summit CIMSA (Center for Indonesia Medical Students’ Activities) tahun 2021 Enhancing Medical Students’Capacity as an Actor and an Advocate for the 2030 SDGs Agenda through Annual Mission Statement and Policy Document, Sabtu, 20 Februari 202.

“Di awal-awal pandemi, kita masih tergagap-gagap, bagaimana bisa melakukan pembelajaran jarak jauh. Namun, penyesuaian terus dilakukan, dengan berbagai kebijakan, juga kolaborasi yang dilakukan dengan berbagai pihak, juga inisiatif guru-guru untuk saling berbagi, pembelajaran jarak jauh bisa berlangsung dengan lebih baik,” kata Iwan.

Meski demikian, Kemdikbud juga menyadari semakin lama pembelajaran jarak jauh, dapat menimbulkan dampak negatif, salah satunya adalah risiko learning loss. Karena itu, untuk daerah-daerah yang sudah masuk dalam zona hijau dan kuning, Kemdikbud memberikan wewenang untuk sekolah dapat dibuka kembali dengan tetap menerapkan protokol kesehatan yang ketat.

Education Team Leader Wahana Visi Indonesia Mega Indrawati, dalam forum tersebut mengungkapkan, berdasarkan hasil rapid assessment yang dilakukan WVI pada Mei 2020, 68% anak mempunyai akses terhadap program belajar dari rumah. Selebihnya kesulitan mendapatkan akses karena diliburkan, kurangnya arahan maupun minimnya fasilitas.

Hanya sekitar 30% anak yang memiliki akses untuk mengikuti program belajar dari rumah secara daring melalui berbagai aplikasi seperti Zoom, Google Meet, Whatsapp, dll.  Sekitar 36 % anak belajar dengan metode luring, yakni dengan kunjungan rumah dan belajar melalui TV dan radio. Kaji cepat ini dilakukan di 35 kabupaten/kota di Sumatera Utara, DKI Jakarta, Jawa Timur, Bengkulu, Sumatra Utara, Kalimantan Barat, Sulawesi Tengah, Papua, Maluku Utara, dan Nusa Tenggara Timur.

Selama pandemi Covid-19, WVI melakukan respons di bidang pendidikan, kesehatan, perlindungan anak dan ekonomi keluarga. Di bidang pendidikan, WVI turut membuka akses belajar anak melalui penyediaan buku dan modul belajar, siaran radio, video, rumah baca hingga mobil sahabat anak untuk anak-anak di daerah terdepan, terluar dan tertinggal (3T). Selain itu, WVI juga memberi dukungan psikososial dan rekreasional untuk para guru, orangtua, dan anak melalui berbagai media. Keberadaan forum anak pun diperkuat dengan berbagai pelatihan yang diadakan seperti literasi digital dan tips efektif belajar dari rumah.

Salah satu program, yaitu siaran radio Lagu dan Belajarnya Anak Wamena (Labewa) yang bekerja sama dengan RRI di Wamena, Papua, bahkan meraih penghargaan dari Komisi Penyiaran Indonesia sebagai pemenang kategori Program Anak Radio. Dalam program ini, anak-anak menjadi penyiar, membawakan program belajar bersama guru. Selain menjalankan program ini, WVI juga membagikan radio untuk anak-anak di Papua yang tidak terjangkau internet atau televisi. 

Mega juga mengapresiasi para mahasiswa kedokteran yang peduli pada dunia pendidikan di Indonesia. “Kami tunggu tindak lanjut dari kegiatan ini. Ada program kampus mengajar dari Kemdikbud, akan sangat membantu jika teman-teman bisa ikut mengajar, membantu adik-adik kita di pedalaman,” ujar Mega.

 

Ditulis oleh: Amanda Putri, Media Relation Executive Wahana Visi Indonesia


Artikel Terkait