Satu Suku Kata Demi Satu Suku Kata

Satu Suku Kata Demi Satu Suku Kata

“Senang sudah ada banyak buku di sekolah sementara,” tutur Kusna (8), murid perempuan yang saat ini menjadi siswa kelas 1 SD. “Saya senang baca buku komik Sahabat Al-Quran. Bacanya masih baru sedikit tapi nanti pingin dilanjutkan lagi pas ke sekolah,” ujarnya. 

Beragam buku cerita anak yang tersedia di salah satu sekolah sementara di Kabupaten Cianjur ini sangat menarik perhatian anak-anak. Ketika masuk ruang kelas, anak-anak berkerumun di depan rak lalu memilih buku mana yang ingin mereka baca. Warna-warni dan gambar yang ada di buku membuat mereka tertarik untuk mulai membaca. 

Bencana gempa bumi memang sempat membatasi akses mereka terhadap buku dan sekolah. Murid-murid memang sempat menjalani hari-hari yang tidak seperti biasanya. Oleh karena itu sesegera mungkin mengembalikan aktivitas pendidikan pada masa tanggap bencana sangat penting untuk anak. Anak dapat segera kembali melakukan runitias belajar, sambil juga menjadi salah satu bentuk dukungan psikososial. Salah satu kegiatan sederhana namun bermanfaat bagi anak di masa tanggap bencana adalah membaca. 

Selain Kusna, Aliyah (7), juga senang membaca buku. Walaupun masih kelas 1 SD, ia berusaha membaca  satu suku kata demi satu suku kata. Bila sudah menuntaskan satu kalimat, ia akan memikirkan apa arti tiap kata dalam kalimat tersebut dan apa maksud kalimatnya. Sampai ia mengerti cerita di buku tersebut. 

Meskipun dalam masa tanggap bencana, murid seperti Kusna dan Aliyah tetap berusaha untuk membaca dan memahami isi bacaan. Kegiatan ini bisa mereka lakukan karena buku pun sudah tersedia di sekolah sementara. Guru serta orang tua mereka juga memberikan pendampingan yang cukup sehingga mereka bisa mengasah keterampilan ini. Namun, tidak semua murid di Indonesia memiliki akses dan keterampilan seperti Kusna dan Aliyah. 

Membaca dan paham merupakan keterampilan yang sangat mendasar dalam perjalanan pendidikan seorang anak. Ketika diberikan akses buku yang sesuai usia, anak akan memiliki ketertarikan untuk membaca. Namun, pendampingan guru yang mengajar mereka membaca dan paham menjadi penentu apakah anak benar-benar menguasai keterampilan ini. 

Saat ini, tidak semua murid dan guru memiliki kesempatan untuk bisa mengembangkan keterampilan membaca dan paham. Bukan hanya ketersediaan buku atau perpustakaan yang ramah anak, banyak guru masih kesulitan untuk mengajarkan comprehensive reading pada murid. Termasuk juga murid dan guru yang berada di Papua. Hanya 25% anak kelas 3 SD di Papua yang memiliki keterampilan membaca paham (data baseline WVI tahun 2022 untuk area Sentani, Biak, Pegunungan Tengah, dan Asmat). Selain itu, anak-anak pun tumbuh di lingkungan yang makin mengkerdilkan literasi. 

WVI melalui kampanye Baca Tanpa Batas ingin menginisiasi gerakan untuk mewujudkan Kampung Literasi bagi anak-anak di Papua. Kampung Literasi mengintegrasikan seluruh aspek dalam kehidupan anak agar kemampuan membaca pahamnya bisa terus berkembang. Selain di sekolah dengan pola pendidikan formal, seorang anak yang tinggal di Kampung Literasi dapat melakukan aktivitas literasi di Rumah Baca, mengakses buku melalui Motor Pustaka, serta memiliki materi ajar dan alat peraga edukatif yang kontekstual. 

Bersama kita bisa mengambil peran agar mimpi tiap anak Indonesia bisa membaca tanpa batas. Karena hari depan semakin nyata, saat anak mulai membaca. 

 

 

Penulis: Mariana Kurniawati (Communication Executive


Related Articles