​​Anak Muda Desa Berhasil Aktifkan Perpustakaan Desa Layak Anak

​​Anak Muda Desa Berhasil Aktifkan Perpustakaan Desa Layak Anak

Walaupun secara fisik sudah didirikan sejak tujuh tahun lalu, Perpustakaan Desa Layak Anak di salah satu desa dampingan WVI ini tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Perpustakaan tidak memiliki pengurus sehingga lebih sering tutup. Anak dan masyarakat juga jarang datang mengunjungi. Padahal keterampilan literasi anak-anak di desa juga masih belum berkembang. Kebanyakan anak malah lebih tertarik bermain game menggunakan gawai daripada membaca buku. 

Melihat kondisi ini, pemuda-pemudi di desa merasa perlu mengambil peran dan melakukan perubahan. Salah satu penggerak yang berhasil mengaktifkan Perpustakaan Desa Layak Anak adalah sosok Annisa. Perempuan muda berusia 20 tahun ini merasa khawatir melihat bagaimana anak-anak lebih banyak sibuk sendiri dengan gawai padahal juga menghadapi situasi tidak lancar membaca. “Banyak anak di desa kami yang belum pandai membaca. Oleh karena itu salah satu tujuan kami membuka perpustkaan adalah agar meningkatnya minat baca anak-anak” ujarnya. 

Ica, begitu ia akrab disapa, kemudian dipercaya oleh Kepala Desa dan masyarakat untuk kembali mengaktifkan perpustakaan tersebut. Dengan ketulusan hati dan semangat ingin membangun desa menjadi lebih maju dan mandiri, Ica membulatkan tekad dengan memulai hal kecil namun berani yakni, menjalani peran sebagai Ketua Pengurus Perpustakaan Desa Layak Anak. 

Berkat kepengurusan Ica dan teman-temannya, saat ini perpustakaan desa ramai dikunjungi anak-anak dan orang dewasa yang ingin membaca dan mencari ilmu. Di perpustkaan tersedia buku-buku yang menarik untuk dibaca seperti buku dongeng, buku tentang hewan atau tumbuhan, serta buku budi daya ikan, buku resep memasak, dan lainnya. Bahkan pada Desember 2023, perpustakaan ini berhasil meraih penghargaan kategori Perpustakaan Desa Peserta Replikasi Mandiri Provinsi dalam Program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial.  

Tetapi sebelum mendapatkan pencapaian seperti sekarang, banyak rintangan dan halangan yang dilalui, salah satunya oleh para pengurus perpustakaan. Modal semangat dan inisitiaf tentu perlu diimbangi dengan kemampuan dan pengalaman. Ica dan teman-teman sempat khawatir karena merasa belum punya wawasan dalam mengelola perpustakaan desa. 

Bekerja sama dengan Dinas Perpustakaan Daerah Kabupaten Sambas, WVI membuat pelatihan manajemen perpustakaan untuk Forum Anak Desa. Dalam pelatihan tersebut anggota forum anak memperoleh wawasan tentang penataan perpustakaan, pemilihan buku yang layak, serta cara mengajak orang-orang untuk datang ke perpustakaan. Ica dan beberapa pengurus perpustakaan desa ikut serta dalam pelatihan ini dan membawa pulang bekal yang sangat bermanfaat. 

Setelah mengikuti pelatihan, Ica dan teman-teman langsung bergegas untuk membuat program kerja perpustakaan. Untuk menarik pengunjung, Ica dan teman-teman membuka les untuk anak-anak SD di perpustakaan desa, mendampingi anak-anak untuk mengerjakan tugas sekolah, serta berbagai kegiatan seperti lomba melukis, lomba membaca dan mendongeng di perpustakaan. 

Melalui kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh Ica dan teman-teman, anak-anak dan masyarakat desa semakin tertarik berkunjung ke perpustakaan. Dan yang terutama, anak-anak jadi lebih pandai membaca bahkan ada beberapa anak yang mendapatkan juara di sekolah setelah mengikuti les di perpustakaan. 

“Dulu saya terbata-bata untuk membaca dan malu saat diminta guru membaca di dalam kelas. Akan tetapi setelah adanya perpustakaan ramah anak ini saya menjadi pandai dan lancar membaca. Kakak-kakak penjaga perpustakaan penuh kesabaran untuk mengajari saya membaca dan tak pernah marah,” cerita Celsi (10). Celsi adalah salah satu anak yang rajin datang ke perpustakaan untuk mengikuti les dan kegiatan lainnya yang diadakan oleh para pengurus. Nilai akademik Celsi di sekolah meningkat sejak mengikuti les dan kegiatan di perpustakaan. 

Drs. Ruhanas selaku Kepala Desa pun merasa bangga dengan keberhasilan para pengurus Perpustakaan Desa Layak Anak. “Saya sangat optimis meraka bisa melakukan yang terbaik,” ujar Pak Ruhanas. Selain program yang menyasar keterampilan literasi anak-anak di desa, saat ini WVI juga sedang mengimplmentasikan program PASTI yang fokus isu stunting pada balita. Pak Ruhanas merasa bahwa program WVI memberi dampak baik bagi anak-anak. Oleh karena itu, ia bersedia memberikan dukungan penuh untuk implementasi program bekerja sama dengan WVI, demi tercapainya kesejahteraan anak-anak di desa. 

 

 

Penulis: Yasika Amanda (Penyedia Jasa Individu kantor operasional WVI area Sambas) 

Penyunting: Mariana Kurniawati (Communication Executive


Artikel Terkait