Kisah Yuliana: Ruang Kelas Kosong di Asmat, Papua

Kisah Yuliana: Ruang Kelas Kosong di Asmat, Papua

Yuliana, seorang guru kelas tiga SD di Kabupaten Asmat, Papua menyaksikan bagaimana jumlah murid-muridnya terus berkurang. Terutama, murid perempuan. Anak-anak perempuan ini ternyata tidak melanjutkan sekolah karena sudah menikah dengan seorang laki-laki dewasa. “Kalau kita tanya kenapa anak ini tidak sekolah maka jawabannya adalah sudah menikah. Ketika kita tanya kapan menikahnya, dijawab semalam,” tutur Yuliana. Ia sendiri sering merasa kaget mengapa bisa secepat itu seorang anak perempuan kehilangan harapan untuk terus sekolah dan malah berperan sebagai istri. 

Anak-anak perempuan di Asmat hidup dalam tingkat kerentanan yang lebih tinggi daripada anak laki-laki. Di mata orang tua dan masyarakat, anak perempuan dianggap seperti objek yang dapat diserahterimakan pada seorang laki-laki yang memintanya. Apalagi bila laki-laki itu telah banyak membantu memenuhi kebutuhan kopi dan gula keluarga. “Itu jadi senjatanya mereka untuk mengambil seorang anak perempuan. Makanya anak perempuan di sini, yang sudah kelihatan dewasa, lebih banyak yang putus sekolah karena dinikahkan,” ujar Yuliana. 

Sebagai seorang guru yang sehari-hari beraktivitas bersama anak-anak, Yuliana menyadari bahwa masalah ini terjadi karena orang tua tidak memprioritaskan anak. Hal yang diutamakan adalah uang yang akan digunakan untuk membeli kopi dan gula. Anak-anak pun jadi tidak merasa bahwa pendidikan adalah hal yang penting karena diasuh oleh orang tua yang tidak mendukung mereka untuk terus belajar. 

“Berangkat ke sekolah saya rasa anak-anak ini banyak yang tidak sarapan, terutama yang sudah kelas tiga atau empat SD. Mereka sudah urus semua sendiri itu. Jadi konsentrasi di sekolah pun sulit,” ceritanya. Sehari-hari, Yuliana hanya dapat memanfaatkan waktu ajar maksimal satu jam. Bila lebih dari satu jam, anak-anak sudah tidak fokus. Ketika ditanya kembali mengenai apa yang sudah diajarkan, anak-anak tidak mengerti. 

“Sekolah kami juga kekurangan ruang kelas. Jadi satu ruangan digabung untuk dua kelas. Sekarang kelasnya terbagi jadi kelas satu dan dua, tiga dan empat, lima dan enam,” ujarnya. Dengan kondisi murid yang tidak siap menerima materi serta keterbatasan fasilitas, Yuliana akhirnya memutuskan untuk fokus pada materi membaca, menulis, dan berhitung saja. Hal ini juga ia lakukan karena banyak anak-anak di Asmat yang tidak memiliki ketiga keterampilan dasar tersebut padahal sudah duduk di Sekolah Dasar. “Jadi mata pelajaran untuk kelas satu sampai kelas empat itu sama, yang diutamakan hanya Matematika dan Bahasa Indonesia saja,” jelasnya. 

Anak-anak yang menjadi murid Yuliana kebanyakan baru mulai bisa membaca ketika sudah kelas empat SD. Jadi ketika naik kelas lima atau enam, murid-murid masih belum terampil membaca dengan lancar dan memahami isi bacaan. 

Anak-anak di Asmat hidup dalam lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat yang tidak berpihak pada mereka. Namun sosok Yuliana sebagai seorang guru dan para relawan masyarakat yang bekerja sama dengan WVI kini mulai mencetuskan perubahan. Sehingga, di tengah banyaknya persoalan yang mengelilingi hidup anak-anak di Asmat, Yuliana masih bisa menyimpan sebuah harapan. “Harapan saya, ada anak perempuan yang mau sekolah lanjut sampai ke jenjang yang tinggi,” tuturnya. Yuliana percaya, pendidikan adalah satu satu pintu yang akan membawa kesejahteraan bagi anak-anak di Asmat. Dan ketika satu pintu memberi jalan maka akan muncul pintu-pintu lainnya. 

 

 

Penulis: Mariana Kurniawati (Communication Executive


Artikel Terkait