Percepat Proses Vaksinasi Covid-19 untuk Anak, Orang Tua Harus Turut Andil

Percepat Proses Vaksinasi Covid-19 untuk Anak, Orang Tua Harus Turut Andil

Tingginya angka Covid-19 pada usia anak membuat pemerintah bergerak cepat dalam pemberian vaksinasi Covid-19 bagi anak usia 12-17 tahun. Pemberian vaksinasi ini ternyata tidak selamanya berjalan mulus. Stok vaksin yang terbatas di luar pulau Jawa dan Bali, hingga keengganan orang tua untuk mengizinkan anaknya mendapatkan vaksin membuat proses percepatan vaksinasi menjadi terkendala. 

Kasus seperti ini nyata adanya, seperti yang diungkapkan Ghifa, seorang anak asal Jakarta. Ghifa yang telah divaksinasi menemukan seorang temannya yang tidak ingin divaksin akibat adanya penolakan dari orang tua.

“Dia memang dari kecil enggak pernah disuntik, mungkin sekarang dia enggak mau divaksinasi karena ada kepercayaan gitu. Dulu pernah ada vaksinasi di sekolah tapi dia enggak ikut, karena ibunya ngelarang karena katanya dari kecil tidak pernah divaksinasi,” cerita Ghifa pada acara virtual Suara Anak Tentang Vaksin.

Hal yang diungkapkan Ghifa turut dijelaskan Junito Drias, Manajer Advokasi dan Pelibatan Publik WVI sebagai kenyataan kondisi di Indonesia saat ini. Menurutnya, dari total target 2 juta vaksinasi untuk anak, masih tercapai 800 ribu vaksinasi dan itu pun masih berupa vaksin dosis pertama.

“Ini adalah PR besar bagaimana kita mengamankan anak-anak kita. Dengan varian terbaru ini cukup menulari banyak orang yang belum divaksinasi. Artinya, anak-anak banyak yang terkena,” ujarnya.

Menurut Drias, orang tua turut berperan besar dalam proses pemberian vaksinasi. Jika orang tua mengerti akan pentingnya divaksinasi, maka proses vaksinasi bisa berjalan lebih cepat. Namun, masalah akan muncul saat orang tua tidak paham akan hal ini.

Ditambahkan Drias, menurut hasil survei rumah tangga yang pernah dilakukan WVI di wilayah dampingan membuktikan masih ada 40 persen orang tua yang menyatakan tidak atau belum mau untuk divaksinasi.

“Kalau diturunkan ke anak, jumlahnya berapa? Artinya orang dewasa sangat menentukan posisi vaksinasi anak. Ini jadi peran pemerintah untuk meyakinkan orang tua untuk anaknya atau keluarganya untuk divaksinasi,” jelas Drias.

Virgin, seorang anak asal Sumba Timur menambahkan, pemerintah memang dirasa perlu mengadakan sosialisasi terkait vaksinasi anak dan dewasa hingga ke desa-desa.  

“Karena kami di Sumba Timur belum ada sosialisasi tentang vaksin, jadi banyak sekali anak dan orang dewasa yang takut divaksinasi,” ungkapnya.

Enggan dan takut untuk divaksinasi hendaknya tak lagi ada. dr. Eva Devita, Sp.A(K), Ketua Satgas Perlindungan Anak Ikatan Dokter Anak Indonesia mengatakan, vaksin Covid-19 bagi anak sudah terbukti aman dan hal ini sudah didukung oleh penelitian, sedangkan vaksin Covid-19 untuk anak usia 3-11 masih dalam penelitian.

“Untuk dosis yang sama dengan orang dewasa, efek sampingnya ringan saja. Kalau orang tua pernah imunisasi anaknya waktu kecil dan anak-anak menjadi rewel, tidak enak badan, itu biasa. Dari penelitian ini tidak ada efek samping berbahaya, efek sampingnya ringan saja,” jelasnya.

Nah, kalau vaksinasi Covid-19 untuk anak sudah terbukti aman, mengapa harus melarang anak mendapatkan haknya?
 

Ditulis oleh:  Putri ianne Barus, Communications Officer Wahana Visi Indonesia


Artikel Terkait