POV Anak tentang Masalah-masalah Anak di Asmat

POV Anak tentang Masalah-masalah Anak di Asmat

Karin mungkin baru berusia 15 tahun tapi ia memiliki pengataman yang tajam dan pemikiran yang kritis mengenai masalah-masalah anak yang ada di sekitarnya. Ia lahir dan besar di Kabupaten Asmat. Sehari-hari ia menyaksikan bagaimana teman sebayanya yang juga remaja perempuan menerima perilaku yang sarat kekerasan. Ia menyaksikan bagaimana teman-temannya kelaparan hingga harus menghisap lem aibon. Ia juga menyaksikan teman-temannya di sekolah semakin lama makin berkurang. 

Karin yang juga aktif dalam Forum Anak bercerita, “Sehari-hari itu ada saja orang tua yang mukulin anaknya. Perempuan dipukulin saat pacaran karena pacarnya itu tidak senang atau dia mabuk. Bullying di sekolah juga ada,”. Karin menilai perilaku yang tidak sewajarnya dilakukan remaja ini terjadi karena anak-anak merasa diabaikan oleh orang tua, keluarga, dan juga guru. “Ada juga yang malas pergi ke sekolah terus lebih pilih cari uang karena mereka lapar. Mereka lebih pilih mencari makan,” ujarnya miris. 

Realita ini begitu gelap dan sudah menjerumuskan banyak anak-anak di Kabupaten Asmat. Kekurangan makanan, pergi ke sekolah dalam keadaan lapar, kondisi ekonomi keluarga yang sangat buruk, perkawinan usia anak yang makin marak, kekerasan sesama anak, tidak bisa mengakses layanan kesehatan yang memadai, atau orang tua yang melakukan kekerasan dan pengabaian, belum lagi guru-guru di sekolah yang juga membutuhkan terobosan dalam mengajar. Tak pelak masalah-masalah ini saling tumpang-tindih, menghimpit kehidupan anak-anak hingga akhirnya memilih cara-cara yang negatif untuk mengisi aktivitas sehari-hari. 

“Sangat jarang saya lihat anak-anak di sini makan makanan lengkap. Biasanya cuma nasi atau sagu. Sekali-sekali saja menunya lengkap,” lanjut Karin, “Mereka kadang mengantuk, ketiduran, bahkan sampai keluar dari sekolah karena bagi mereka mencari makan lebih penting,”. 

Ketika makanan tidak didapat, banyak remaja di Asmat yang akhirnya harus kecanduan lem aibon atau bahkan narkotika. Hal ini berbuntut panjang karena dengan kondisi mabuk, para remaja yang juga tidak terpapar informasi mengenai kesehatan reproduksi ini pun melakukan kegiatan seksual di luar nikah. “Ada teman saya di sekolah hamil. Kakak kelas saya juga ada. Tapi ya baik ketika anaknya lahir ya ayah sama ibunya ini tidak peduli sama anaknya,” ujar Karin, ia pun geram dengan situasi seperti ini. 

Belum lagi diperparah dengan saratnya kekerasan dalam hubungan percintaan anak remaja di Asmat. Mudah ditemui, sekomplotan laki-laki memukuli seorang perempuan yang sudah berstatus sebagai mantan pacar karena merasa tidak senang putus hubungan. “Perempuan itu mudah sekali dipukul, dijambak,” tutur Karin. 

Di tengah situasi yang sangat tidak stabil dan orang dewasa pun seringkali tidak bisa menjadi contoh yang baik, seorang anak justru bisa menjadi pembawa harapan bagi anak-anak lainnya. Karin dan para anggota Forum Anak di Asmat adalah para pembawa harapan tersebut. Meskipun tantangan juga sangat berat, namun Karin dan rekan Forum Anak lainnya tidak hanya ingin tinggal diam. Mereka memilih untuk mengabil peran dan membawa perubahan. 

“Nilai hidup saya itu, hargai diri sendiri dulu, dan membantu orang lain. Ga masalah mau dikucilkan atau di-bully, yang penting lebih baik bergerak daripada diam. Lebih baik buat anak-anak lain tahu daripada hanya saya saja yang tahu,” ungkap Karin. Selain telah melakukan berbagai kampanye dan sosialisasi mengenai perlindungan anak dan hak-hak anak, Karin juga ingin menjadi teman sebaya yang membawa pengaruh positif bagi sesama remaja. Ia ingin bisa bicara dari hati ke hati dengan temannya yang sedang terjerumus hal negatif. Ia ingin berbagi tentang kehidupan yang tidak sembrono, asal ikut-ikutan tanpa berpikir baik-buruknya. “Saya ingin teman-teman ini bisa ngomong, ‘Saya harus sekolah’, ‘Saya bisa capai cita-cita', ‘Saya sebenarnya bisa sekolah sambil cari uang’. Walaupun kalau dijelaskan saya juga sering kena marah balik, tapi dari situ saya berpikir berarti saya harus buat lebih supaya mereka bisa berubah pikiran,” pungkasnya. 

Sudut pandang dan aksi yang Karin lakukan merupakan terang di tengah gelap. Terang ini harus dijaga agar terus bersinar, semakin bersinar, atau memunculkan terang-terang lainnya. Jangan sampai terang ini padam dan justru memunculkan kekelaman bagi kehidupan anak-anak di Asmat, Papua. Bila Karin, seorang remaja perempuan berani mengambil peran, maka setiap kita pun seharusnya jauh lebih berani. Bersuara, berdonasi, atau berinisiatif menjadi relawan merupakan peran yang bisa kita pilih sekarang, di manapun kita berada.  

Karin dan anak-anak di Asmat membutuhkan dukungan yang sangat besar dari kita semua agar mereka bisa melihat adanya harapan dalam hidup mereka. Mari bersama-sama kita wujudkan harapan hidup setiap anak di Asmat. 

 

 

Penulis: Mariana Kurniawati (Communication Executive


Artikel Terkait