Berubah Dimulai Dari Saya

Berubah Dimulai Dari Saya

Keinginan seseorang untuk melakukan suatu tindakan akan ditentukan oleh sikap, motivasi, dari diri orang tersebut terhadap  tindakan yang akan dilakukan. Hal ini sangat terlihat dari bapak Timotius (32), beliau adalah ketua BPD dari salah satu Desa di wilayah Sintang, Kalimantan Barat. Usia yang terbilang muda dan semangat yang mengebu-gebu membuatnya begitu konsisten melakukan tindak lanjut pelatihan yang diberikan dengan segera. Pada bulan April 2022, beliau diberikan kapasitas untuk menjadi fasilitator desa untuk melakukan advokasi di bidang air dan sanitasi.

Semenjak mengikuti pelatihan Citizren Voice and Actoin (CVA), Pak Timotius merasa bahwa dia mulai memiliki banyak referensi dan pengetahuan yang bisa dibagikan kepada sesama, selanjutnya ia juga merasa lebih peduli pada kesehatan khususnya pada air dan sanitasi  

Desa tempat Pak Timotius tinggal merupakan 1 dari 9 desa yang belum mendeklarasikan sebagai desa Open Defecation Free (ODF) atau kondisi dimana setiap individu dalam masyarakat tidak buang air besar sembarangan. Ada beberapa kendala yang dialami sehingga dianggap sulit untuk menuju hal tersebut, salah satunya adalah mengubah kebiasaan dari masyarakat itu sendiri. Hal ini merupakan motivasi bagi Pak Timotius untuk terus mensosialisasikan betapa pentingnya hidup bersih dan sehat bagi warga di Desanya. Beliau merasa hal ini penting bermula dari pelatihan yang sudah ia dapatkan dari Wahana Visi Indonesia (WVI) sebelumnya. Ia menyadari bahwa ada hal baik yang ia dapatkan dari pelatihan CVA yaitu “saya sudah memberikan masukan kepada warga betapa pentingnya BAB di tempat khusus (WC). Saya menyampaikan ini melalui kegiatan pelatihan warga”.  Pelatihan ini ia lakukan terus menerus, baik melalui kegiatan formal maupun non formal, bahkan tidak hanya kepada masyarakat, dia juga menyampaikan kepada Pemerintah Desa mengenai Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM). "terkait STBM sudah saya usulkan kepada Kepala Desa dengan tanggapan konkret dari Desa berupa penyediaan pasir dan semen untuk membuat kloset yang dibagikan kepada warga yang dianggap tidak mampu, selanjutnya saya juga mengusulkan kepada Desa mengenai sosialisasi pencegahan usia anak dan sudah dimasukan dalam penganggaran RKPDS 2023”, jelas Pak Timotius. Dari hasil advokasi yang ia lakukan saat ini, mereka sudah melakukan pelatihan cetak kloset secara mandiri kemudian melakukan sosialisasi STBM dan Desapun juga sudah menganggarkan pelatihan cetak kloset berupa semen dan pasir.

Harapan Pak Timotius adalah, ia tetap ingin di jalur yang sekarang dimana ia bisa berbuat dan mengabdikan diri untuk masyarakat melakukan banyak perubahan baik dan memberiakn contoh yang dimulai dari dirinya sendiri untuk mencapai hidup utuh sepenuhnya bagi anak dan masyarakat di Desanya. Bahkan beliau juga yakin tahun ini mereka bisa mendeklarasikan diri sebagai Desa ODF (Open Defecation Free).


Related Articles